Berikut adalah analisis kritis mengenai fenomena dokumentasi berlebih dalam program tersebut:
1. Jebakan LMS (Learning Management System) yang Melelahkan
Kurikulum Guru Penggerak dijalankan melalui platform digital (LMS) dengan tenggat waktu yang sangat ketat.
-
Tugas yang Berantai: Setiap modul mengharuskan guru untuk mengunggah tugas dalam bentuk tulisan, rekaman suara, atau video. Bagi banyak guru, proses mengedit video dan mengunggah dokumen memakan waktu jauh lebih lama daripada waktu yang digunakan untuk merenungkan materi pelajaran itu sendiri.
2. Narasi “Pamer” vs. Dampak Nyata
Ada kesan kuat bahwa program ini sangat mementingkan visibilitas. Guru didorong untuk membagikan aksi nyatanya ke media sosial atau platform YouTube.
-
Validasi Publik vs. Validasi Siswa: Keberhasilan seorang Guru Penggerak sering kali diukur dari seberapa banyak jempol dan komentar di media sosial, bukan pada perubahan perilaku atau peningkatan nilai siswa yang luput dari pantauan kamera.
Perbandingan: Paradigma Pemimpin Pembelajaran vs. Realita Lapangan
3. Terkikisnya Waktu untuk Persiapan Kelas
Beban kerja ganda (mengajar penuh di sekolah + mengerjakan tugas GP) membuat waktu untuk persiapan mengajar yang berkualitas menjadi tumbal.
-
Guru yang Lelah: Seorang guru yang begadang hingga dini hari demi mengedit video refleksi kemungkinan besar akan masuk kelas dengan energi yang rendah.
4. Standarisasi yang Mematikan Konteks
Sistem dokumentasi yang seragam di seluruh Indonesia sering kali gagal menangkap realitas di daerah terpencil.
-
Diskriminasi Infrastruktur: Guru di daerah susah sinyal terpaksa menghabiskan energi luar biasa hanya untuk mengunggah satu video tugas. Di sini, program justru menjadi beban fisik daripada peningkatan intelektual.
-
Formalitas Aksi Nyata: Banyak “Aksi Nyata” yang hanya dilakukan sekali demi kepentingan rekaman, tanpa ada keberlanjutan setelah tugas tersebut dinilai oleh fasilitator.
5. Kesimpulan: Mengembalikan Ruh ke Dalam Kelas
Agar Guru Penggerak tidak benar-benar menjadi “Buruh Konten”, diperlukan perombakan dalam sistem evaluasi program:
-
Penyederhanaan Administrasi: Fokuskan penilaian pada observasi langsung atau testimoni rekan sejawat dan siswa, bukan pada kemewahan video yang diunggah.
-
Menghapus Kewajiban Konten Sosial Media: Berikan kebebasan bagi guru untuk mendokumentasikan proses dalam bentuk yang paling sederhana (seperti jurnal refleksi tulisan tangan) agar energi mereka tetap tersisa untuk siswa.
Filosofi Ki Hadjar Dewantara adalah tentang menuntun kodrat anak, bukan mengejar algoritma aplikasi. Pendidikan sejati terjadi saat kamera dimatikan dan guru mulai menyentuh hati serta pikiran siswanya.
Pertanyaan untuk Anda: Apakah menurut Anda sistem dokumentasi video ini tetap diperlukan sebagai bukti akuntabilitas, ataukah sebaiknya diganti sepenuhnya dengan kunjungan lapangan oleh pengawas secara mendadak untuk melihat realita kelas yang sebenarnya?
