Guru Penggerak atau Buruh Konten? Menggugat Efektivitas Program yang Lebih Sibuk dengan Dokumentasi Daripada Substansi.

Wacana mengenai “Guru Penggerak atau Buruh Konten” merupakan kritik tajam yang kini menggema di kalangan pendidik. Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP), yang sejatinya bertujuan menciptakan pemimpin pembelajaran, sering kali dituding terjebak dalam formalitas administratif dan digital yang sangat menyita waktu, sehingga mengaburkan substansi pengajaran itu sendiri.

Berikut adalah analisis kritis mengenai fenomena dokumentasi berlebih dalam program tersebut:


1. Jebakan LMS (Learning Management System) yang Melelahkan

Kurikulum Guru Penggerak dijalankan melalui platform digital (LMS) dengan tenggat waktu yang sangat ketat.

2. Narasi “Pamer” vs. Dampak Nyata

Ada kesan kuat bahwa program ini sangat mementingkan visibilitas. Guru didorong untuk membagikan aksi nyatanya ke media sosial atau platform YouTube.


Perbandingan: Paradigma Pemimpin Pembelajaran vs. Realita Lapangan

Dimensi Harapan (Pemimpin Pembelajaran) Realita (Buruh Konten)
Fokus Utama Transformasi pedagogi dan perubahan karakter. Pengumpulan poin dan penyelesaian tagihan video.
Metode Kerja Kolaborasi organik dengan rekan sejawat. Mengisolasi diri di depan laptop demi mengedit konten.
Ukuran Keberhasilan Siswa menjadi lebih aktif dan kritis. Portofolio digital yang penuh dengan “centang hijau”.
Dampak Psikologis Semangat melakukan inovasi baru. Kelelahan digital (Digital Burnout).

3. Terkikisnya Waktu untuk Persiapan Kelas

Beban kerja ganda (mengajar penuh di sekolah + mengerjakan tugas GP) membuat waktu untuk persiapan mengajar yang berkualitas menjadi tumbal.

  1. Guru yang Lelah: Seorang guru yang begadang hingga dini hari demi mengedit video refleksi kemungkinan besar akan masuk kelas dengan energi yang rendah.

  2. Apatisme Rekan Sejawat: Ketika seorang Guru Penggerak terlalu sibuk dengan gawainya untuk mendokumentasikan kegiatan, rekan sejawat yang tidak mengikuti program cenderung merasa jengah. Hal ini merusak semangat gotong royong karena guru lain merasa harus memaklumi “kesibukan konten” sang rekan.

4. Standarisasi yang Mematikan Konteks

Sistem dokumentasi yang seragam di seluruh Indonesia sering kali gagal menangkap realitas di daerah terpencil.

  • Diskriminasi Infrastruktur: Guru di daerah susah sinyal terpaksa menghabiskan energi luar biasa hanya untuk mengunggah satu video tugas. Di sini, program justru menjadi beban fisik daripada peningkatan intelektual.

  • Formalitas Aksi Nyata: Banyak “Aksi Nyata” yang hanya dilakukan sekali demi kepentingan rekaman, tanpa ada keberlanjutan setelah tugas tersebut dinilai oleh fasilitator.


5. Kesimpulan: Mengembalikan Ruh ke Dalam Kelas

Agar Guru Penggerak tidak benar-benar menjadi “Buruh Konten”, diperlukan perombakan dalam sistem evaluasi program:

  • Penyederhanaan Administrasi: Fokuskan penilaian pada observasi langsung atau testimoni rekan sejawat dan siswa, bukan pada kemewahan video yang diunggah.

  • Menghapus Kewajiban Konten Sosial Media: Berikan kebebasan bagi guru untuk mendokumentasikan proses dalam bentuk yang paling sederhana (seperti jurnal refleksi tulisan tangan) agar energi mereka tetap tersisa untuk siswa.

Filosofi Ki Hadjar Dewantara adalah tentang menuntun kodrat anak, bukan mengejar algoritma aplikasi. Pendidikan sejati terjadi saat kamera dimatikan dan guru mulai menyentuh hati serta pikiran siswanya.

Pertanyaan untuk Anda: Apakah menurut Anda sistem dokumentasi video ini tetap diperlukan sebagai bukti akuntabilitas, ataukah sebaiknya diganti sepenuhnya dengan kunjungan lapangan oleh pengawas secara mendadak untuk melihat realita kelas yang sebenarnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *